Story Of My Nyeni-Nyeni
Senin, 30 Oktober 2019
Hai hai, kembali lagi
diceritaku, maaf ya akhir-akhir ini lagi pengen cerita yang random, belum bisa
fokus untuk bahas sesuatu yang nyeni atau
apapun requestan kalian.
![]() |
| sikecil yang kini umurnya seperempat abad cr: own |
Tadi siang,
saat aku diperpustakaan, aku membaca tentang anak yang memiliki jiwa seni sejak
dini, seketika aku teringat dengan masa laluku terutama saat SMP, dimana saat itu
aku hilang rasa pada seni rupa, niatan belajar seni malah aku diabaikan dan aku
merasa terkucilkan.
Untuk memulai cerita
ini, aku mau bahas asal mula darah seni ini bisa ada pada diriku, berasa
seniman ih (wkwk), hahaha padahal bukan, hanya pelaku dan pengkaji seni. Jadi,
berawal yang katanya bapak aku, kakek aku adalah seorang yang bekerja sebagai
panelis dipengadilan yang mempunyai hobby melukis. Aku meragukan ke
kredibilitas cerita ini, padahal cerita ini berasal dari narasumber terpercaya
yaitu bapak aku sendiri. Namun, bapak aku gak ngerasain lama tinggal dengan
orangtuanya terutama bapaknya, yaitu kakek aku sendiri atau dibahasa karo (suku aku) aku nyebut kakek itu adalah bulang.
Bulang aku itu meninggalnya saat bapak aku SMP kalau
ngak salah jadi bapak gak bisa banyak tahu, karena kenangan mereka sangat
sedikit. Kemampuan melukis tersebut nurun lah ke bapak aku dan adiknya yang
paling kecil (paman aku). Jadi gaes, sejak aku kecil itu bapak aku sangat suka
dengan segala hal yang seni-seni terutama melukis, tapi medianya tembok masih
jelas terekam diotak yang hanya berapa cc ini bentuk dan detail gambarnya. Sedikit
informasi, dari kecil sampai kelas 4 SD, aku dan keluargaku tinggal dirumah
peninggalan kakek dan nenekku. Jadi dinding yang aku maksud tersebut adalah
dinding rumah nenek aku. Kalau bisa aku deskripsikan, lukisan itu tentang suatu
lokasi yang hijau, seperti perbukitan dan tepat dibagian paling bawah ada
sekitar 4 atau 5 pancuran air. Ada sih figur manusia tapi aku lupa hahaha, tapi
aku sangat ingat kalau detail dedaunan serba hijau, pohon pisang dan tumbuhan
lainnya tampak menonjol. Jadi kalian bisa bayangkan betapa bosannya aku dulu melihat
ruang tamu dengan lukisan hasil ciptaan bapak aku. Tapi, entah kenapa sekarang
aku malah pengen lihat lagi. Kami pindah rumah saat aku kelas 4 SD, karena
berbagai hal yang tidak mengenakkan dan kenangan teramat buruk dirumah itu dan
kejadian aneh yang membuat aku hampir saja terbunuh, kamipun pindah, tidak jauh
dari rumah lama. Setidaknya, rumah yang belum selesai sepenuhnya itu adalah
milik orangtua ku sendiri.
Karya
itu tidak bisa dipindahan dan ya, hanya kenangan, rumah itu kini disewakan
karena menjadi hak milik paman aku yang merupakan adik bapak aku yang paling
kecil. Karya-karya lainnya itu ada, tapi yang terpampang jelas dirumah kami
yang saat ini, hanyalah sketsa wajah bapak aku saat muda dan digambar saat beliau
ngekost dulu. Dari cerita yang aku dengar dan aku lihat sendiri saat
mengunjungi rumah lama, aku itu memang sudah sangat suka menggambar, terlihat
dari berbagai gambar yang aku coret didinding rumah, ya walaupun semua anak
diumurku saat itu pasti suka mencoret tembok, tapi bakat itu sudah terlihat.
Oke setelah menjelaskan latar belakang mengapa darah seni itu hadir, kini aku
mau bahas masa TK aku. Aku sedikit lupa tentang sesuatu yang nyeni yang aku
lakukan saat TK, karena yang aku ingat hanya aku dulu sering dimarahi dan
dimusuhi oleh guru TK ku yang kejam, aku dulunya adalah introvert, bagi yang kenal aku sekarang pasti tidak akan menduga
hal ini karena aku terlihat sangat ceria, kapanpun dan dimanapun, suka bergaul
dan sangat pemberani. Panjang cerita bila ku bahas masa TK ku yang tidak
seindah anak-anak lain, namun aku masih ada kenangan baik seperti selalu
dijemput sekolah oleh kakak sepupuku yang saat itu tinggal bersama kami yaitu
kak Jenny, karena mamak dan bapakku tidak bisa karena kerja sebagai guru.
Saatnya
menceritakan masa SD ku. Aku makin suka menggambar terutama menggambar
perempuan dengan gaun yang indah, bahkan teman-teman dan guruku memujiku, aku
diasah serta diajak oleh guru mengajiku agar ikut lomba kaligrafi dan aku bisa
menang walau juara 3. Yap piala pertama seorang Ripa. Betapa bahagianya aku
saat itu, setiap saat aku membersihkan piala pertamaku, aku pasti menatapnya
lama. Ibarat aku punya HP saat SD mungkin aku tiap hari insta storyin, lalu aku
pernah dipuji karena gambar on the spotku
saat kami jalan-jalan acara PORSENI ke Gundaling (salah satu bukit wisata
didaerahku). Gambaran punyaku paling bagus, begitu kata guru-guru dan mamakku yang
merupakan guru kelas 4 SDku sangat bangga padaku. Ya walaupun dibalik itu semua
kadang aku kesal punya orangtua seorang guru dan aku sekolah ditempat mamak aku
bekerja, karena selalu saja diledekin “anak guru”, dinyinyirin kakak kelas
kalau salah dikit, apalagi kalau mencapai prestasi dimana itu jerih payahku
sendiri, pasti aku dibilang “pantesan aja, orang anak guru”, mereka pikir semua
itu adalah hasil utak-atik nilai atau istilahnya dongkrak nilai karena mamak
aku salah satu staf guru di SD tempatku sekolah, kenangan terakhir tentang seni
saat aku sd adalah kaligrafi bertuliskan man
jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil, buk lilis
yang merupakan guru kelas 6 ku sangat senang dengan hasil gambarku didepan
kelas, mungkin hal itu biasa bagi kalian, tapi bayangkan dipuji depan
teman-teman SD, karena jiwa pamer anak-anak saat masih SD, kejadian itu sangat membahagiakan.
![]() |
| Ripa 4 Tahun Cr: Own |
![]() |
| Foto saat 17an dan aku berulang tahun Cr: Own |
Pengalaman tersedihku
tentang seni adalah saat aku memasuki SMP. Aku sangat shock dengan cara belajar SMP, yang berat tapi aku bisa jalani
karena bukan aku sendiri yang merasa hal demikian. Selain karena aku seakan
masuk dunia baru dimana tidak ada mamak disana, hukuman yang berat seperti push up saat tidak paham matematika,
dibully teman yang jauh lebih cantik, difitnah yang tidak-tidak juga merupakan
hal yang membuat kenangan masa SMPku tidak seindah anak-anak lain. Jadi, aku
itu sekolah di SMP favorit saat itu, yaitu SMP
1 Berastagi, singkat cerita saat kelas 7 SMP, ada ekskul dan kami
dibolehin pilih dan tinggal masuk aja mau kemana, aku lupa detailnya, tapi ada
ekskul musik, menggambar, olahraga, paskibra dan lainnya. Aku tidak berani
masuk ke kelas ekskul menggambar karena teman dekatku tidak ada yang masuk
ekskul itu, mereka semua ngambil musik, karena cocok dan berguna apabila
mengasah kemampuan mereka saat digereja (FYI disekolah, kami yang islam sangat
minoritas sehingga bisa terhitung yang muslim berapa orang, hal yang umum
berteman dengan teman yang non bahkan sahabatan). Back to story, aku mempersiapkan peralatan menggambar aku dan buku
gambar A3, saat aku masuk kelas itu, aku tidak kenal siapa-siapa karena
gabungan kelas 7 sampai kelas 9, satu kelas penuh seingat aku. Aku duduk
dibelakang, namun tidak ada diajari cara menggambar sama sekali. Mereka
menggambar perspektif, sepertinya gambar kamar atau ruang tamu, mereka semua
sudah menyelesaikan gambar, ada yang sudah mewarnai pokoknya pada bagus-bagus.
Sedangkan aku yang sama sekali belum paham apa itu perspektif tidak diajari
sama sekali, aku hanya melihat kanan-kiri tanpa ada yang membantu dan
menggubris, tapi tanggung malu aku gambar semampuku saja. Aku menyesal, sungguh
menyesal masuk kelas itu, aku seperti termarginalkan, tidak ada sambutan
hangat, dan untuk kelas menggambar minggu depan, aku tidak datang. Aku pun tak
mau gabut saat teman-temanku pada ekskul, terutama teman dekatku yang ikut
ekskul olahraga dan musik. Bisa aja kan ya masuk ekskul olahraga, tapi aku gak
bisa, walaupun bapak aku adalah guru olahraga aku sama sekali gak bisa
olahraga, dengan tubuhku yang ringkih ini, tak ada satupun cabang olahraga yang
aku dalami dan pahami, jadi untuk ekskul olahraga, aku sama sekali tidak
meliriknya. Jadi, akupun masuk ke kelas musik, bersama teman-teman dekatku,
saat itu guru ekskulnya mengajar piano, aku sama sekali tidak merasa
termarginalkan diacuhkan, aku dipandu untuk setidaknya paham tangga nada, nada,
not dll (oh iya, saat kami SMP pelajaran seni lebih difokuskan pada pelajaran seni
musik), aku mulai suka belajar piano saat itu, sampai-sampai aku menggambar
tuts piano dimejaku, aku mainkan seakan-akan itu adalah piano beneran. Entah
kenapa musik saat itu menyelamatkanku dari cerita kelam SMPku. Pada masa
inilah, selain ogah untuk masuk
ekskul seni rupa, aku sama sekali tidak mengasah kemampuan menggambarku
kembali, karena masa masa puber membuatku lebih suka hangout, nonton bareng dirumah temen, jalan-jalan, suka sama cowok
dan lebih menyukai musik dari pada menggambar. Namun aku menyadari tidak akan
didukung diseni musik oleh orangtua, akupun tak berani minta les musik seperti
temanku yang lain, ya aku sadar diri, mungkin saat itu aku hanya menggebu-gebu
sesaat. Masa SMPku pun kini hanya tinggal kenangan, dan aku punya cerita yang
lebih seru dimasa SMA.
Biar bisa ngebayangin betapa polosnya aku saat SMP dulu, aku itu hanya punya sedikit foto saat SMP karena ga punya HP, kalau mau ngapa-ngapain ya pakai HP bapak atau mamak. Terus foto-foto ini juga aku dapat dai FB teman SMP aku .
![]() |
| Foto saat kelas 9 kalau gak salah, btw aku kurus sekali, padahal masa puber (aku lingkarin warna merah biar kelihatan) Cr: Facebook/MayHosiani |
![]() |
| Ini pertama kalinya aku main ke Miki Holiday dan aku sanggat bahagia walau dimarahin emak karena tiketnya mahal (sangat ingat kalau saat itu gerimis tapi tetap main) Cr: Facebook/MayHosiani |
Silahkan
baca di part selanjutnya….







Komentar
Posting Komentar