NIKAH NGAK YA ?
Sabtu, 28 September
2019
Masih tetap disini,
kamar hijau ditemani kipas, buku-buku pinjaman dari perpustakaan, cup
minum kosong pinklava nya Richeese Factory yang dibeli pakai promo
OVO (saya tidak di endorse).
![]() |
| Sketsa by Ripa untuk kakak yang hendak menikah cr: own |
Hallo
everyone, Ripa kembali lagi menulis.
Jangan lupa subscribe dan hidupin tombol loncengnya,
biar kalian pada tau kapan aku bikin
video baru, hahaha engga ih bercanda.
Mau bahas apa ya ?
Sepertinya hal yang
sangat menarik untuk dibahas kali ini adalah soal percintaan tepatnya
pernikahan. Cinta adalah topik yang ga akan pernah ada habisnya, mau semuda dan
setua apapun dirimu, hal ini akan menjadi cerita yang seru dan menarik untuk
dibahas.
Jadi berkaca dari
pengalaman pribadi atau mungkin pengalaman kalian juga, pertanyaan-pertanyaan yang
mulai hadir di umur kalian dan aku yang udah seperempat abad ini adalah KAPAN NIKAH ? ( aku bold dan capslock biar kaya ngegas ). Aku sih ya
kawan-kawan, gak tersinggung kali lah kalau ditanya soal gituan, yaaaa mau
gimana lagi, disatu sisi aku memang sudah seharusnya menikah, walau dibenakku apa
mereka kirain hidup berumah tangga itu gampang , menyatukan ego dua belah pihak
itu semudah minta jajan ke emak (susah sih) dan dilain sisi aku beranggapan mereka peduli
sama aku, dan mereka pengen segera ngasih kado, nyumbang uang plus makan enak
dinikahan aku, (ecielahhh hahaha)
Bukannya
awak (aku) ini gak mau nikah kan ya, tapi mau gimana lagi. Pendidikan adalah
candu (hahaha ga deng), pendidikan lebih diutamakan, karena bagiku seorang wanita bergelar walau
tidak bekerja nantinya bakal menjadi madrasah bagi anak-anaknya, ilmunya tetap berguna baik buat diri sendiri, keluarga maupun lingkungan. Lagian aku belumnya
tua-tua kali (menurutku). Sedikit berbagi pengalaman dari dua orang teman yang
pernah disekeliling hidupku, ya barang kali cerita ini menginspirasi, kalau
engga ya anggap aja menuh-menuhin tulisan, dan kalau mau baca konklusi silahkan
ke paragraph terakhir ( kalau boleh, baca dari awal sampai akhir sih hahaha).
Aku
punya kenalan beberapa orang yang menikah di umur yaaa, bisa dikatakan sudah
diambang batas, tapi mereka bahagia aja itu, memiliki keturunan yang imut-imut
juga (ya iyalah namanya juga kalau anak bayi mana ada yang gak imut). Aku
dengar dari kakak-kakakku itu, mereka sudah sangat muak dengan
pertanyaan-pertanyaan kapan menikah, ibaratnya itu kalau bisa lah keluar darah
dari telinganya, udah keluar lah saking seringnya. Tapi, pembelajaran yang aku
dapat dari sikakak, beliau yang secara umur sudah dewasa, makin dewasa cara
pikirnya setelah menikah dan merasa lebih gampang adaptasi karena mendapatkan
pasangan yang sama juga dewasa dalam hal umur dan pola pikir, selain itu mereka mapan
karena sudah memilki pekerjaan tetap sebelum menikah dan menjadi sangat bahagia
karena penantian penjang yang selama ini diidamkan sudah berakhir, dan berlabuh
di tempat yang semestinya. Cerita cinta mereka lebih menarik daripada orang
yang berpacaran (FYI kakak ini pakai proses ta’aruf, khitbah, akad, walimahan).
Selain
punya temen yang menikah diumur yang rawan, aku juga punya temen yang
menikahnya sangat cepat kawan-kawan, tanpa sebut nama aku bisa bilang dia
menikah diumur yang sangat muda yaitu 19 tahun. Oh iya menurut aku, pernikahan yang ideal itu di umur 23-26
ya, jangan tanya atas dasar apa aku bikin rentang umur segitu yang cocok untuk
menikah, karena kalau dibahas dari ilmu kesehatan, ilmu agama, atau ilmu apapun
aku ra mudeng pokoknya ya gitu dah, intinya udah baligh (padahal baligh dibawah 19 tahun kan ya wkwkwk). Aku pokoknya bikin ala-ala aku
sendiri deh, dengan pertimbangan seperti, umur segitu yang kuliah udah pada tamat
dan udah bisa mencari uang sendiri, sudah pas untuk menikah secara umur dan rata-rata umur segitu emang yang
paling sering ditanyain tentang menikah dan ngebet menikah. Oke back to topic, jadi teman aku yang
umurnya 19 tahun ini menikah dengan pacarnya, tidak ada yang menarik dari kisah
cinta mereka menurut versiku, mereka ketemu dikampung, PDKT, fafafifu bla-bla
tiba-tiba pacaran-LDR-pacaran, berantem, putus nyambung, nyambung lagi dan
tibalah saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mereka pun menikah. Bagi
mereka mungkin kisah mereka teramat indah, bagiku tidak. Sekarang temen aku itu
udah punya anak dan yaa seperti yang bakal kita tebak, kehidupan menjadi
emak-emak, yang mana kita semua yang perempuan inshaaallah bakal merasakannya
juga cepat atau lambat. Namun, yang aku
sayangkan dia tidak menikmati masa mudanya yag panjang namun memilih langsung
berumahtangga. Walaupun hidup adalah pilihan dan hak tiap orang mau ngapain aja diumurnya saat itu, tapi indahnya
pusing-pusing ria nugas, berbahagia jalan sama temen, nongkrong sampai tengah
malam, ngeprank anak orang, cie-ciein teman, dia pasti tidak bisa merasakan lagi
dengan kesibukan yang teramat banyak ( karena aku melihat teman-teman yang
berumah tangga pasti lebih memprioritaskan kebahagiaan anak dan suami daripada
diri sendiri, begitu pula dengan ibu kita dirumah, mak I love you, i miss u).
Sekilas informasi, aku
itu termasuk salah satu orang yang suka membaca quotes tentang percintaan, pernikahan, kepatah-hatian di Instagram atau Twitter. Terkadang dalam hati aku membatin, kok bisa mereka tahu perasaanku saat itu, kok bisa sama, apa mereka sesepuh cinta yang duluan makan garam, atau mereka pakai dukun?, batinku
menerka-nerka (eakkkk). Jawabanku sendiri adalah, karena semua wanita itu tipikal, tipikal
dalam arti kalau merasakan cinta ya berbahagia, bawannya pengen traktir teman,
ingin share quotes lagi bahagia, pengen bersamanya selama 24 jam, kalau ketemu dunia serasa milik
berdua yang lain ngontrak. Begitu pula kalau patah hati, perasaan kecewa, semua
orang disekitar kita terasa salah, bahkan tukang cilok lewat depan rumah aja
salah hahaha, bawaannya senggol dikit bacok. Parahnya, apabila sering menangis
karena sakit hati rasanya pengen buka usaha isi ulang air mineral aja, karena merasa air mata yang mengair itu
terlalu banyak dan cuma-cuma, apalagi menangis sambil denger lagu mellow galau,
beuhhh, susah cakap lah. Jadi, jangan heran admin ataupun penulis kalimat galau itu, tulisannya sangat ngena kehati.
Well.
Bagi aku menikah bukanlah perkara cepat
atau lambat, bukan pula perkara harus udah punya pacar dulu baru bisa menikah,
bukan, bukan begitu zubaedah. Jodoh udah tertulis di lauh mahfudz. Skenario kisah kita sudah tertulis disana, ya
walaupun jodoh elu-elu pada udah
tertulis bukan berarti diem-diem bae dikamar
dan tiba-tiba pangeran bermobil Alphard datang
sambil bawa cincin lamaran. Ya walaupun dalam hal ini aku termasuk orang yang
masih meraba-raba, karena belum pernah merasakan menikah, still jomblo fii sabilillah dan
aku juga kadang bingung kudu piye kalau
gak mencari, padahal katanya wanita menunggu saja bukan tugasnya mencari jodoh.
Tapi solusi terbaik dariku, jangan fokus kesana aja pikirannya, iyasih menikah
juga prioritas tapi aktifitasmu hari ini adalah yang paling utama. Jangan
stress lah perkara yang satu itu, apalagi karena sering disindir oleh
lingkunganmu, biar aja ntar mereka capek sendiri. Nanti suatu hari, disaat kamu
menjalani aktifitasmu, pasti ada aja cara Allah mempertemukan dirimu dengan
jodohmu. Entah itu papasan dijalan, ketemu di tempat kerja, dikenalin sama teman,
anak temen ibu bapakmu, atau bahkan temen lamamu, teman SD, SMP , SMA atau
temen deketmu kuliah yang kamu pikir gak mungkin, malah tiba-tiba menghubungimu
dan disitulah jalanmu ketemu jodoh. Nah, bagi yang sekarang ini punya pacar,
berpacaranlah yang sewajarnya, cukup seseorang itu membantu mengisi kekosongan hatimu,
menjadi teman yang selalu ada saat ingin jalan dan makan, dan tempat berbagi
cerita disaat kesusahan. Jangan berpacaran yang aneh-aneh, dijaga selagi ada,
jangan picu pertengkaran, kalau udah pacaran lama langsung lamar, Kita gak tau
kan ya entar tiba-tiba ada yang mengetuk
pintu hati si dia saat kamu lengang, dia luluh dan memilih seseorang yang baru
dikenalnya itu karena siap untuk menikah, lalu dia meninggalkanmu yang udah
pacaran bersamanya 7 tahun namun hanya memberikan harapan palsu. Ibarat anak,
anak kalian itu udah SD (btw aku berperan jadi guru anakmu itu hahahaha). Jangan
sampek ya, makanya buruan halalin (pake wardah). Walaupun dibahas dalam sisi agama
berpacaran tak boleh, ya mau gimana lagi, kalian terlanjur memulainya, dosa
ditanggung masing-masing orang, aku sih ra
urus, pokoknya aku single dan bahagia (asal jangan dipancing melihat orang yang
lagi berduaan aja aku aman kok wkwkw) serta tidak mengusik kebahagianmu itu. Intinya
jalani aja, kalau saat ini kamu dicomblangin sama temen-temenmu, dikenalin
keseseorang oleh orang tuamu, ya … ya, nikmatin aja, walau terkadang diumurmu
yang rawan ini masih ada saja cie-cie club yaitu temenmu.
Nah,
cukup sekian sekilas fafafifu tak jelas
dari Ripa btw semua informan ku itu adalah orang real dengan cerita yang real
ya teman-teman, aku tidak sedang mendongeng. Oh iya, FYI aku ini gampang
memberi nasihat cinta kepada teman-temanku yang bermasalah cinta tapi diri
sendiri aja belum bener dan belum menjalani yang mereka rasakan (hahaha ngakak aing). Begitulah sharing isi dikepalaku,
ya walau judul tidak terlalu nyambung dengan isi ibarat click bait, semoga cukup membuat kalian mengangguk dalam hati dan
berkata, *ihhhh samaa, *aku sepemikiran
deh sama Ripa, aku sudah sangat bahagia. Semoga bermanfaat (love sign).
Tibalah kita disaat
yang berbahagia, happy saturday everyone.
![]() |
| foto hanya sebagai pemanis, mengingatkan kalian bahwa sebuah hubungan harus berakhir dipelaminan bukan dipersimpangan jalan cr: own |




Komentar
Posting Komentar